Suatu malam, saya terlibat debat kusir melalui sms dengan salah satu teman. Bahasan kali ini adalah mana partai kampus yang paling baik yang paling bisa mewakili aspirasi para mahasiswa. Posisi saya disini adalah netral, tidak memihak partai manapun. Tapi teman saya ini merupakan pendukung dari salah satu partai yang ada.
Kemudian saya tanya, hal apa saja yang membuat saya harus memilih partai tersebut dalam pemilu legislatif dan presiden BEM FE UNS kali ini. Jawaban yang terlontar darinya ternyata masih belum memuaskan rasa ingin tahu saya.
Esoknya, kebetulan diadakan debat capres BEM FE UNS. Kesempatan tersebut benar-benar saya manfaatkan untuk memuaskan rasa ingin tahu. Saya pun duduk di barisan paling depan. Saya ingin membuktikan omongan-omongan para pendukung partai ketika kampanye.
Ternyata, debat begitu seru tetapi sangat dangkal. Saya belum menemukan jawaban mengapa saya harus memilih salah satu dari mereka. Ketika debat, keduanya hanya saling menjatuhkan kelemahan satu sama lain. Sangat ironis, mendapati debat yang kurang bermutu di lingkungan yang akademis seperti ini.
Parahnya pula, calon presiden yang diunggulkan teman saya ini ternyata belum tahu, ketika beliau nanti yang memerintah akan dibawa kemana BEM FE UNS pada khususnya dan FE UNS pada umumnya. Okelah, dari segi idealis beliau memang menang dan terlihat meyakinkan. Tapi ketika ditanya lebih lanjut, beliau tidak bisa menjelaskan secara lebih rinci.
Menghela nafas sejenak….
Jadi, seperti ini kualitas pemimpin-pemimpin bangsa Indonesia kelak. Memang cukup memprihatinkan. Saya pribadi mungkin juga masih perlu banyak belajar. Saya sendiripun mungkin belum bisa memimpin diri saya dengan baik. Tapi saya tak mau berputus asa. Masih banyak waktu dan kesempatan untuk belajar.
Semoga, siapapun nanti yang terpilih memang benar-benar mampu untuk menjadi pemimpin yang baik. Be wise for your vote, jangan pernah berindak apatis terhadap lingkungan
A Daughter's Pain
2 minggu yang lalu